10 Perbedaan Asuransi Syariah dan Asuransi Konvensional

10 Perbedaan Asuransi Syariah dan Asuransi Konvensional - Saat ini, terdapat banyak jenis dan manfaat yang ditawarkan oleh asuransi, di mana setiap perusahaan asuransi memiliki beragam fitur dan keunggulan pada masing-masing produk yang mereka keluarkan.

Sebagai calon pengguna, sudah sewajarnya kita mengenal dan memahami dengan baik asuransi yang akan kita pilih dan gunakan. Hal ini tentunya dapat  membantu kita untuk mendapatkan manfaat dan keuntungan yang maksimal dari penggunaan tersebut.

Dalam beberapa tahun terakhir ini, asuransi syariah menjadi salah satu produk asuransi yang banyak dibicarakan dalam masyarakat. Asuransi disediakan untuk memenuhi kepentingan banyak orang yang mengharapkan adanya sebuah produk asuransi yang halal dan sesuai dengan ketentuan syariah.

Menurut Dewan Syariah Nasional, Asuransi Syariah sendiri adalah sebuah usaha untuk saling melindungi dan saling tolong menolong di antara sejumlah orang, di mana hal ini dilakukan melalui investasi dalam bentuk aset (tabarru) yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi risiko tertentu melalui akad (perikatan) yang sesuai dengan syariah.

Dalam asuransi syariah, berlaku sebuah sistem, yaitu di mana para peserta akan menghibahkan sebagian atau seluruh kontribusi yang akan digunakan untuk membayar klaim jika ada peserta yang mengalami musibah.

Sehingga di dalam asuransi syariah, peranan dari perusahaan asuransi hanya sebatas pengelolaan operasional dan investasi dari sejumlah dana yang diterima saja.

Di indonesia, asuransi syariah tersedia di berbagai produk-produk asuransi jiwa maupun asuransi kesehatan yang bisa didapatkan dengan mudah melalui perusahaan-perusahaan asuransi swasta.

Dalam perkembangannya, asuransi syariah lebih memiliki banyak keunggulan dan kelebihan jika dibandingkan dengan asuransi konvensional. Hal ini tentunya membuat adanya perbedaan mendasar di antara kedua jenis asuransi tersebut.

10 Perbedaan Asuransi Syariah dan Asuransi Konvensional

Dapat kita ambil contoh bila Anda ingin mengajukan asuransi kesehatan syariah dari Prudential, Allianz, Sinarmas, atau AIA, tentu saja ada beberapa keuntungan yang diberikan dibandingkan dengan asuransi kesehatan biasa. Berikut ini kami jelaskan perbedaan yang terdapat di antara asuransi syariah dan asuransi konvensional :

1. Pengelolaan Resiko
Pada dasarnya, dalam asuransi syariah sekumpulan orang akan saling membantu dan saling tolong menolong, saling menjamin dan bekerja sama dengan cara mengumpulkan dana hibah (tabarru). Hal ini berarti bahwa pengelolaan risiko yang dilakukan di dalam asuransi syariah adalah menggunakan prinsip sharing of risk, di mana resiko dibebankan atau dibagi kepada perusahaan dan peserta asuransi itu sendiri.

Sedangkan pada asuransi konvensional berlaku sistem transfer of risk, di mana resiko dipindahkan atau dibebankan oleh tertanggung (peserta asuransi) kepada pihak perusahaan asuransi yang bertindak sebagai penanggung di dalam perjanjian asuransi tersebut seperti yang ada pada asuransi kesehatan, asuransi mobil, atau asuransi perjalanan.

2. Pengelolaan Dana
Pengelolaan dana di dalam asuransi syariah memiliki sifat transparan dan dipergunakan sebesar-besarnya demi mendatangkan keuntungan bagi para pemegang polis asuransi itu sendiri.

Di dalam asuransi konvensional, perusahaan asuransi akan menentukan seberapa jumlah besaran premi dan berbagai biaya lainnya yang ditujukan untuk menghasilkan pendapatan dan keuntungan yang sebesar-besarnya bagi perusahaan tersebut.

3. Sistem Perjanjian
Di dalam asuransi syariah hanya digunakan akad hibah atau yang dikenal dengan tabarru yang didasarkan pada sistem syariah dan dipastikan halal. Di dalam asuransi konvensional sendiri akad yang dilakukan cenderung sama dengan perjanjian jual beli.

4. Kepemilikan Dana
Sesuai dengan akad yang digunakan, maka di dalam asuransi syariah dana asuransi tersebut merupakan milik bersama, di mana perusahaan asuransi hanya bertindak sebagai pengelola dana saja. Namun, hal ini tidak berlaku di dalam asuransi konvensional, karena premi yang dibayarkan kepada perusahaan asuransi adalah milik perusahaan asuransi tersebut, di mana dalam hal ini perusahaan asuransi akan memiliki kewenangan yang penuh terhadap sistem pengelolaan dan juga pengalokasian dana asuransi.

5. Pembagian Keuntungan
Pada asuransi syariah, semua keuntungan yang didapatkan oleh perusahaan terkait dengan dana asuransi, selanjutnya dibagikan kepada semua peserta asuransi  tersebut. Berbeda dengan perusahaan asuransi konvensional, di mana seluruh keuntungan yang didapatkan menjadi hak milik perusahaan asuransi tersebut.

6. Kewajiban Zakat
Perusahaan dengan asuransi syariah mewajibkan pesertanya untuk membayar zakat yang jumlahnya disesuaikan dengan besarnya keuntungan yang didapatkan oleh perusahaan. Sedangkan di dalam asuransi konvensional hal ini tidak berlaku.

7. Klaim dan Layanan
Di dalam asuransi syariah, peserta bisa memanfaatkan perlindungan biaya rawat inap di rumah sakit yang diberlakukan bagi semua anggota keluarga. Satu polis asuransi digunakan bagi semua anggota keluarga, yang menyebabkan premi yang dikenakan oleh asuransi syariah juga akan lebih ringan. Namun, tidak berlaku di dalam asuransi konvensional, di mana setiap orang akan memiliki polis sendiri dan premi yang dikenakan tentu juga akan lebih tinggi.

Selain itu, asuransi syariah juga memungkinkan kita untuk bisa melakukan double claim, sehingga kita tetap mendapatkan klaim yang diajukan meskipun kita telah mendapatkannya melalui asuransi yang lain.

8. Pengawasan
Pada perusahaan asuransi syariah, pengawasan dilakukan secara ketat dan dilaksanakan oleh Dewan Syariah Nasional (DSN) yang dibentuk langsung oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan bertugas mengawasi segala bentuk pelaksanaan prinsip ekonomi syariah di Indonesia.

Di setiap lembaga keuangan syariah, wajib juga terdapat Dewan Pengawas Syariah (DPS) yang bertugas sebagai pengawas. DPS ini adalah perwakilan dari DSN yang memiliki tugas dalam memastikan lembaga tersebut apakah telah menerapkan prinsip syariah secara benar.

DSN berfungsi untuk melakukan mengawasi operasional yang dijalankan di dalam asuransi syariah, termasuk menimbang segala sesuatu bentuk harta yang diasuransikan oleh peserta asuransi, di mana hal tersebut haruslah bersifat halal dan lepas dari unsur haram. Hal ini dilihat dari asal dan sumber harta tersebut serta manfaat yang dihasilkan olehnya.

Sedangkan dalam asuransi konvensional, permasalahan mengenai asal dari objek yang diasuransikan tidak terlalu menjadi masalah, karena yang diperhitungkan dan lebih ditekankan yaitu nilai dan premi yang ditetapkan dalam perjanjian asuransi.

9. Instrumen Investasi
Perusahaan asuransi syariah, investasi tidak bisa dilakukan pada berbagai kegiatan usaha yang bertentangan dengan prinsip syariah dan mengandung unsur haram dalam kegiatannya. Yang termasuk dalam kegiatan seperti ini adalah:
1. Perjudian dan permainan yang bisa tergolong ke dalam perilaku judi.
2. Memproduksi, mendistribusikan, memperdagangkan dan/atau menyediakan berbagai barang atau jasa yang haram zatnya

Ketentuan ini tidak terdapat di dalam asuransi konvensional yang hanya akan melakukan berbagai cara yang ditujukan untuk mendatangkan keuntungan yang sebesar-besarnya bagi perusahaan.

10. Dana Hangus
Pada beberapa jenis asuransi yang dikeluarkan oleh perusahaan asuransi konvensional, kita bisa mengenal istilah dana hangus yang mana hal ini terjadi pada asuransi yang tidak diklaim. Namun, ini tidak berlaku di dalam asuransi syariah, hal ini dikarenakan dana tetap bisa diambil walaupun ada sebagian kecil yang diikhlaskan sebagai dana tabarru.

Itulah 10 Perbedaan Asuransi Syariah dan Asuransi Konvensional yang dapat UangMania share buat Anda. Semoga dapat bermanfaat ya...

Dapatkan update artikel teknologi terbaru dari kami via email:

0 Response to "10 Perbedaan Asuransi Syariah dan Asuransi Konvensional"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel